
Microsoft ganti bisnis jadi jual beli kontainer ???
Desas desus dunia IT saat ini adalah Cloud Computing. Term baru ini bermakna kalau kita ingin minum susu, gak harus punya sapi di belakang rumah. Just pay as you go.

Seminar yang dibawakan oleh Norman Sasono ini memiliki topik yang cukup ‘lucu’ bagi saya. Beliau membawakan seminar tersebut dengan cukup enjoy, gak tegang, dan gak terlalu teknis. Gak banyak kata2 ribet nan pusing yang terdengar dari tempat saya duduk, beliau menganalogikan beberapa hal dengan baik agar lebih mudah dimengerti.
Ok, seperti janji di postingan saya berikutnya, kali ini saya akan me-review apa sih Cloud Computing itu. Dan karakteristik bisnis apa yang cocok untuk terjun ke teknologi ini.
Beli Mobil Sendiri
Perusahaan cenderung untuk memiliki semua resource yang mereka perlukan untuk bisnis ada di dalam server mereka, baik itu dalam 1 gedung yang sama atau gedung yang berbeda. Intinya mereka menginginkan semuanya dalam genggaman.
Sekarang kita berandai-andai sejenak. Kita ingin bekerja di suatu tempat yang asing bagi kita. Untuk menuju ke tempat tersebut dan menunjang aktivitas mobilitas kita di sana, kita memerlukan kendaraan. Singkat kata, beli aja mobil baru / bekas dan masalah pun beres.
Namun bagaimana bila kita hanya bekerja di tempat tersebut hanya beberapa bulan saja? 1 word, boros. Belum lagi jika kita udah memiliki mobil di rumah. Hmm, ribet. Memang mobil jadi 2, tapi pengeluaran bensin dan servis pun jadi berlipat. Ok, save the clue at this point.
Rental Mobil
Alternatif kedua adalah kita tidak ingin beli mobil hanya untuk dipakai sebentar saja namun harus memiliki mobil untuk menunjang aktivitas. Mengapa tidak sewa mobil saja? Kita hanya membayar mobil tersebut selama kita memakainya. Gak ada pemborosan yang terjadi.
Ya ya ya, tapi bagaimana kalau kita sakit 1 minggu dan mobil tersebut nganggur di hotel tempat kita menginap? Apa si tukang rental mobil mau mengurangi pembayaran kita? Pasti gak mau alias FLAT. Kita sewa 2 bulan walaupun kenyataannya terpakai kurang dari 2 bulan, tetap harus bayar 2 bulan. Well, save the clue again at this point. Next.
Pakai Taksi
Kalau pendekatan yang ini, bisa jadi solusi yang efisien tapi belum tentu efektif. Namun, apa yang coba ditawarkan oleh cloud computing adalah seperti naik taksi. Kita hanya membayar apa yang kita gunakan. Just pay as you go.
The Reality
Mengambil analogi di atas, perusahaan sekarang cenderung untuk Beli Mobil Sendiri. Tender provider untuk beli server, supplier untuk perangkat-perangkat pendukung IT, dan tetek bengek lainnya harus mereka lakukan. Belum lagi menggaji karyawan IT untuk menjaga server perusahaan UP terus untuk availability.
Sedangkan perusahaan yang memiliki dana terbatas, termasuk para enterpreneur yang mencoba mandiri di dunia digital namun belum memiliki modal yang kuat, solusinya adalah Rental Mobil. Yaitu membeli jasa dari hosting provider. Misalnya ingin men-deploy aplikasi web, maka harus di host di suatu tempat. Sama seperti rental mobil, kita harus bayar FLAT. Misalnya web kita paling banyak diakses selama jam kerja, traffic tinggi dan tentunya resource yang digunakan juga melonjak di server. Namun apa yang terjadi ketika malam hari? Server dalam posisi nungging alias nyantai. Apa mau hosting provider nya memberi diskon di malam hari selama 7×24 jam? I don’t think so . . .
Nah, dengan adanya kejadian seperti ini, maka muncullah teknologi baru yang dikenal dengan nama Pakai Taksi. Perusahaan tidak harus pusing mikirin tender, tidak harus rugi ketika traffic web rendah, just pay as you go. Cloud Computing memungkinkan kita untuk mengontrol resource yang dibutuhkan bisnis kita tanpa harus memikirkan infrastruktur IT secara mendalam.
Misalnya, dengan menggunakan Cloud Computing, ketika terjadi lonjakan pengunjung web secara drastis, maka kita bisa switch resource yang dibutuhkan untuk menangani pengunjung tersebut. Jika sudah rendah, tinggal switch ulang sehingga hemat energi dan biaya.
Switch apaan yak? Maksudnya adalah ketika 1 server tidak mampu menangani pengunjung yang terlalu banyak, maka kita tinggal minta server tambahan, bisa 2, 3, dst. Aplikasi kita akan otomatis di copy ke server baru tersebut dan di load balancing secara otomatis dan hanya terjadi dalam waktu hitungan menit. Pengunjung berikutnya akan langsung diarahkan ke server yang baru secara otomatis tanpa disadari.
Wait, tambah server? Bukankah lama? Beli server nya, testing, konfigurasi, dll? Yup, memang lama untuk BELI MOBIL SENDIRI. Tapi bagi Cloud Computing, it’s not like that. Server yang jumlahnya ribuan itu udah saling terkoneksi 1 sama lain. Letaknya pun bisa berbeda pulau hingga benua. Nah dengan menggunakan teknologi pendahulunya yang dikenal dengan virtualization, hal ini (tambah/kurangi server) sangat dimungkinkan terjadi secara instan.
Jadi jika kita beli jasa cloud computing, maka aplikasi kita akan di instal di dalam sebuah server (tanpa kita tau ada di negara mana, rack mana, hardisk apa). Engine cloud ini akan mengcopy kan aplikasi kita ke server yang kita minta secara otomatis dan melakukan load balancing. Ketika sudah tidak dibutuhkan, tinggal kita release aja server yang baru itu. Benar-benar solusi yang hemat.
Virtualisasi – 1 server untuk ramai-ramai

Kita tidak pernah tau aplikasi kita ada di rack server mana. Begitu juga kita tidak bisa tau apakah dalam 1 hardisk tempat aplikasi kita itu telah ditempati oleh aplikasi dari perusahaan lain atau belum. So, dalam 1 hardisk bisa aja ada 5 aplikasi dari perusahaan yang berbeda. Ketika aplikasi pertama milik perusahaan A mengalami traffic yang tinggi pada suatu saat, apakah akses aplikasi kedua perusahaan B dan lainnya menjadi terganggu? Tentu tidak. Cloud Computing akan mengcopy kan aplikasi pertama ke partisi berikutnya (jika ada), atau ke hardisk berikutnya, atau ke rack berikutnya, atau jika diperlukan ke partisi / hardisk / rack yang berada di kontainer berikutnya. Belum cukup? Copy kan lagi ke negara terdekat. Dan akan di load balancing secara otomatis.
![]()
1 kontainer terdiri dari beberapa rack server. 1 rack server terdiri dari beberapa hardisk yang size nya bisa mencapai petabyte. Dalam 1 rack inilah terdapat data dari beberapa perusahaan yang ‘numpang’ sekaligus.
Berikut adalah video kontainer milik Microsoft untuk mendukung Cloud Computing. N guess what? It can be move by truck!!
Privasi dan Keamanan Data
Pertanyaan yang pasti terlontar adalah “Apakah privasi dan data kita aman di pihak lain?” Ibaratnya memberikan dompet kita ke tetangga sebelah yang profesinya sebagai polisi. Aman tapi tetap aja itu dompet kita.
Walaupun masih ada pro dan kontra, tapi dari Microsoft menjanjikan akan privasi dan keamanan data pelanggannya. Mereka juga memberikan jalur hukum yang legal bila kita merasa ada data yang bocor keluar dari server mereka.
Closure
Saya tidak membahas 3 inti utama Cloud Computing yaitu Software as a Service (SaaS), Platform as a Service (PaaS), dan Infrastructure as a Service (IaaS) walaupun dijelaskan dalam seminar itu.
Yang ingin saya sampaikan adalah teknologi Cloud ini sangat menjanjikan di masa yang akan datang. Saya sebagai developer aplikasi bisa saja mendadak punya perusahaan sendiri yang tidak memiliki lokasi kantor dan tagihan pajak bangunan. Kantor saya ada secara virtual, bahkan ada di Singapura, Washington, dan lainnya. Bisa jadi pun saya gak punya karyawan sama sekali.
Saya cukup membuat aplikasi yang berguna, saya instal di Cloud System, dan besok hari sudah bisa langsung diakses oleh pengguna. Saya tidak perlu membeli server, menyewa konsultan keamanan data, atau pemborosan lainnya. Saya hanya membayar kapan aplikasi saya diakses oleh pengguna. Jika aplikasi saya semakin populer, saya cukup pesan server tambahan secara realtime. Dan ketika traffic nya turun, saya buang aja server yang gak dipakai. Eh, mendadak di akhir tahun traffic nya tinggi lagi. Ya pesan aja lagi server nya. Benar-benar penghematan yang luar biasa daripada meletakkan server nya di kantor fisik. Listrik harus bayar terus-terusan, kontrak internet, dan lainnya. Dengan cloud computing, biaya IT akan lebih dipangkas. Orang akunting tidak akan teriak-teriak ketika melihat data perbandingan penggunaan resource server terhadap traffic yang telah terjadi.
Hanya saja, tidak semua bisnis harus berjalan di cloud computing. Data perbankan misalnya. Itu adalah data kritis dan tidak mungkin di letakkan di server cloud yang lokasinya antah berantah.
Untuk produk Microsoft, mereka menyediakan beberapa produk berikut.











Recent Comments